Kontribusi Berpikir Positif terhadap Kesejahteraan Emosional Anak Asuh di Dua Panti Asuhan di Pekanbaru

Authors

  • Ryeni Yusvita Saragih Universitas Riau, Indonesia
  • Azhar Universitas Riau, Indonesia
  • Dafetta Fitrilinda Universitas Riau, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.33394/jtni.v12i2.18553

Keywords:

Positive Thinking, Emotional Well-Being, Residential Care, Orphanage, Institutional Caregiving, Berpikir Positif, Kesejahteraan Emosional, Anak Asuh, Panti Asuhan, Pengasuhan Institusional

Abstract

Abstract: Children and young people living in residential care may face emotional challenges associated with loss, disrupted family relationships, and limited individualized support. Although positive thinking has been linked to well-being in student and general adolescent populations, evidence from Indonesian residential-care settings remains limited. This study examined the statistical contribution of positive thinking to emotional well-being among residents of Rumah Bintang and Maranatha orphanages in Pekanbaru. A quantitative, non-experimental ex post facto correlational design was employed. Of a population of 51 residents, 46 participants aged 8–24 years were included through proportionally allocated purposive sampling. Positive thinking was measured using a 30-item scale covering positive expectations, self-confidence, and religiosity (Cronbach’s α = .892), while emotional well-being was assessed using a 29-item scale covering life satisfaction, emotion regulation, and social relationships (Cronbach’s α = .885). Both constructs were at a high level (M = 4.07 and M = 3.99 on a five-point scale, respectively). Religiosity was the strongest positive-thinking dimension (M = 4.25), whereas emotion regulation was the lowest emotional-well-being dimension (M = 3.81). Positive thinking correlated positively with emotional well-being, r = .680, p < .001. Simple linear regression was significant, F(1, 44) = 37.947, p < .001, with R² = .463 and an unstandardized slope of B = .794. Thus, positive thinking explained 46.3% of the variance in emotional well-being, without establishing causality. The findings support structured mentoring, self-confidence development, emotion-regulation training, and context-sensitive spiritual support in residential care.

Abstrak: Anak asuh yang tinggal dalam pengasuhan institusional dapat menghadapi tantangan emosional yang berkaitan dengan kehilangan, terputusnya relasi keluarga, dan keterbatasan dukungan individual. Meskipun berpikir positif telah dikaitkan dengan kesejahteraan pada populasi pelajar dan remaja umum, bukti pada konteks panti asuhan di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini menganalisis kontribusi statistik berpikir positif terhadap kesejahteraan emosional anak asuh di Panti Asuhan Rumah Bintang dan Panti Asuhan Maranatha Pekanbaru. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional ex post facto yang bersifat non-eksperimental. Dari populasi 51 anak asuh, sebanyak 46 responden berusia 8–24 tahun dipilih melalui purposive sampling dengan alokasi proporsional. Berpikir positif diukur menggunakan 30 butir yang mencakup harapan positif, percaya diri, dan religiusitas (Cronbach’s α = 0,892), sedangkan kesejahteraan emosional diukur menggunakan 29 butir yang mencakup kepuasan hidup, kemampuan mengelola emosi, dan hubungan sosial (Cronbach’s α = 0,885). Kedua variabel berada pada kategori tinggi, masing-masing dengan mean 4,07 dan 3,99 pada skala lima poin. Religiusitas merupakan dimensi berpikir positif tertinggi (M = 4,25), sedangkan kemampuan mengelola emosi merupakan dimensi kesejahteraan emosional terendah (M = 3,81). Berpikir positif berkorelasi positif dengan kesejahteraan emosional, r = 0,680, p < 0,001. Regresi linear sederhana signifikan, F(1,44) = 37,947, p < 0,001, dengan R² = 0,463 dan koefisien B = 0,794. Dengan demikian, berpikir positif menjelaskan 46,3% variasi kesejahteraan emosional, tetapi tidak membuktikan hubungan kausal. Temuan mendukung penguatan mentoring, kepercayaan diri, keterampilan regulasi emosi, dan dukungan spiritual yang kontekstual di panti asuhan.

References

Afridah, M., Rahmawati, I., Zamardah, L., & Salsabila, S. (2022). Kesejahteraan emosional pedagang kaki lima di masa pandemi. Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi, 2(1), 21–30.

Albrecht, K. (1992). Daya pikir: Metode peningkatan potensi berpikir. Dahara Prize.

Azalia, N. A. A. (2024). Pengaruh berpikir positif terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa. IJBITH: Indonesian Journal of Business Innovation, Technology and Humanities, 1(1), 66–75.

Beti, S., Azhar, A., & Kurnia, R. Pengaruh Kepercayaan Diri Dan Reward Terhadap Kinerja Guru SD Negeri Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan. Tunjuk Ajar: Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 5(2), 359-379.

Bluth, K., Campo, R. A., Futch, W. S., & Gaylord, S. A. (2017). Age and gender differences in the associations of self-compassion and emotional well-being in a large adolescent sample. Journal of Youth and Adolescence, 46(4), 840–853. https://doi.org/10.1007/s10964-016-0567-2

Diener, E. (1984). Subjective well-being. Psychological Bulletin, 95(3), 542–575. https://doi.org/10.1037/0033-2909.95.3.542

McCall, R. B., Groark, C. J., Hawk, B. N., Julian, M. M., Merz, E. C., Rosas, J. M., Muhamedrahimov, R. J., Palmov, O. I., & Nikiforova, N. V. (2019). Early caregiver–child interaction and children’s development: Lessons from the St. Petersburg–USA Orphanage Intervention Research Project. Clinical Child and Family Psychology Review, 22, 208–224. https://doi.org/10.1007/s10567-018-0270-9

Muslimin, Z. I. (2021). Berpikir positif dan resiliensi pada mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi. Jurnal Psikologi Integratif, 9(1), 115–131.

Mutiso, V., Tele, A., Musyimi, C., Gitonga, I., Musau, A., & Ndetei, D. (2018). Effectiveness of life skills education and psychoeducation on emotional and behavioral problems among adolescents in institutional care in Kenya: A longitudinal study. Child and Adolescent Mental Health, 23, 351–358. https://doi.org/10.1111/camh.12232

Nakatomi, T., Ichikawa, S., Wakabayashi, H., & Takemura, Y. C. (2018). Children and adolescents in institutional care versus traditional families: A quality of life comparison in Japan. Health and Quality of Life Outcomes, 16, Article 151. https://doi.org/10.1186/s12955-018-0980-1

Nuzulina, N., Azhar, A., & Burhanud, D. (2022). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Dan Budaya Organisasi Terhadap Disiplin Guru Sekolah Dasar Di Kecamatan Sinaboi Kabupaten Rokan Hilir. Jurnal Kepemimpinan Dan Pengurusan Sekolah, 7(2), 200-209.

Peale, N. V. (2006). Berpikir positif untuk remaja. Media Press.

Riduwan, & Sunarto. (2017). Pengantar statistika untuk penelitian pendidikan, sosial, komunikasi, dan ekonomi. Alfabeta.

Riduwan. (2015). Dasar-dasar statistika. Alfabeta.

Rizal, S., Puspita, Y., Azhar, A., Nasrianti, R., & Fitriana, F. (2022). Strategi Pengelolaan Program Adiwiyata Dalam Pembentukan Karakter Siswa Peduli Lingkungan Di SMAN 1 Gerung Lombok Barat. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 1(1), 1-7.

Seligman, M. E. P., & Csikszentmihalyi, M. (2000). Positive psychology: An introduction. American Psychologist, 55(1), 5–14. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.5

Sugiyono. (2022). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.

Syaf, A., Anggraini, Y., & Murni, A. (2017). Hubungan antara berpikir positif dengan kecemasan komunikasi pada mahasiswa. Psychopolytan: Jurnal Psikologi, 1(1), 31–38.

Utami, N. I., & Fari’ah, E. (2023). Hubungan berpikir positif dan stres akademik pada siswa sekolah menengah atas. Jurnal Pendidikan Edutama, 10(1). https://doi.org/10.30734/jpe.v10i1.3395

Van IJzendoorn, M. H., Bakermans-Kranenburg, M. J., Duschinsky, R., Fox, N. A., Goldman, P. S., Gunnar, M. R., Johnson, D. E., Nelson, C. A., Reijman, S., Skinner, G. C. M., Zeanah, C. H., & Sonuga-Barke, E. J. S. (2020). Institutionalisation and deinstitutionalisation of children 1: A systematic and integrative review of evidence regarding effects on development. The Lancet Psychiatry, 7(8), 703–720. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30399-2

Widarso, W. (2002). Berpikir dan bertindak positif: 11 kiat untuk meraih sukses. Kanisius.

Widyanti, G. S. (2024). Membangun kesejahteraan emosional: Strategi untuk hidup bahagia. Circle Archive, 1(4).

Weni, W., Saam, Z., & Azhar, A. Hubung antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spritual dengan kepuasan kerja guru sekolah dasar negeri se kecamatan dumai barat kota dumai. Tunjuk Ajar: Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 4(2), 234-252.

Yuliarnita, H., Natuna, D. A., & Azhar, A. (2021). Kontribusi Self Efficacy Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Kinerja Guru Bk Di Smp Kota Pekanbaru. Jurnal JUMPED (Jurnal Manajemen Pendidikan), 9(2), 193-205.

Downloads

Published

2026-09-02

How to Cite

Saragih, R. Y., Azhar, & Fitrilinda, D. (2026). Kontribusi Berpikir Positif terhadap Kesejahteraan Emosional Anak Asuh di Dua Panti Asuhan di Pekanbaru. Transformasi : Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Non Formal Informal, 12(2), 738–749. https://doi.org/10.33394/jtni.v12i2.18553

Issue

Section

Articles

Citation Check