PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP TINGKAT KENYAMANAN TAMAN KOTA DI WILAYAH MATARAM
DOI:
https://doi.org/10.33394/jss.v2i2.3658Abstract
Taman Kota merupakan salah satu jenis Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ditata untuk menciptakan keindahan, kenyamanan, keamanan, dan kesehatan bagi penggunanya. Kota Mataram merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki beberapa taman kota yang diharapkan dapat mengatasi berbagai macam permasalahan lingkungan seperti pencemaran udara, panas, debu, menjadi pengendali iklim mikro, upaya konservasi tanah dan air di perkotaan, dan berfungsi sebagai tempat aktivitas wisata dan olahraga. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengkaji persepsi masyarakat terhadap kenyamanan dalam melaksanakan aktivitas pada beberapa Taman Kota dengan fungsi wisata dan olahraga di Kota Mataram. Lokasi penelitian difokuskan pada Taman Udayana, Taman Sangkareang, Taman Mayura dan Taman Selagalas dengan metode penentuan lokasi menggunakan purposive sampling, dan penentuan responden menggunakan Insidental Sampling dengan unit analisis masyarakat atau pengunjung di wilayah Taman Kota. Teknik wawancara menggunkan instrument kuesioner yang merujuk pada parameter yang meliputi kondisi vegetasi, fasilitas pendukung, keterwadahan aktivitas pengunjung, kemampuan dalam menetralisir suhu panas, tingkat kenyamanan, kemampuan dalam meredam angin, radiasi matahari dan polusi. Hasil penelitian menunjukkan persepsi tertinggi dalam hal kenyamanan kota yaitu pada Taman Mayura dengan nilai 98%, kemudian Taman Selagalas yaitu sejumlah 90,5%, kenyamanan sedang pada Taman Udayana yaitu 76,375% dan yang paling rendah pada Taman Sangkareang yaitu 57,25%. Tingginya nilai kenyamanan pada Taman Mayura disebabkan kebersihan, kelengkapan fasilitas yang terjaga dengan baik, penataan vegetasi yang rapi serta keunikan taman sebagai salah satu peninggalan Kerajaan Bali. Tingkat kenyamanan di Taman Sangkareang dinilai paling rendah dapat disebabkan oleh kurangnya fasilitas pendukung dan suhu panas yang dirasakan oleh responden jika berada di tengah taman, kenyamanan termal hanya dapat dirasakan di sekeliling taman yang masih terdapat banyak vegetasi.References
Fandeli, C dan Muhammad. 2009. Prinsip –
Prinsip Dasar Mengkonservasi Lanskap.
Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.190p.
Lakitan, B. 1994. Dasar-Dasar Klimatologi.
Jakarta : Raja Grafindo Persada. 173p.
Oktafillah, A. F., Fajriani, S., & Ariffin.
(2018). Dampak Ruang Terbuka Hijau
terhadap Perubahan Lingkungan Mikro
dan Kenyamanan Lingkungan. Produksi
Tanaman, 6(6), 1103–1109.
Pauwah, Y., Kumurur, V. A., Sela, R. L. E., &
Rogi, O. H. A. (2013). Persepsi dan
Preferensi Pengunjung terhadap Kawasan
Wisata Pantai Malalayang. Jurnal
Arsitektur Sabua, 5(1), 16–27.
[Pemerintah RI] Pemerintah Republik Indonesia.
(2007). Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan.
[Pemerintah RI] Pemerintah Republik
Indonesia. (2007).Undang- Undang Nomor
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Setiawan, T., Sintaningrum, & Mirandia, D.
(2018). Persepsi Publik pada Pengelolaan Taman Kota di Kota Bandung. Wacana Kerja, 20(1), 1–18.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Bandung: Afabeta
Sulistyana, M. I. C. D. (2016). Kenyamanan
Hutan Kota Linara Berbasis Kerapatan
Vegetasi, Iklim Mikro dan Persepsi
Masyarakat di Kota Metro Provinsi
Lampung. Universitas Lampung.

