STRUKTUR DAN KOMPOSISI VEGETASI DI KAWASAN HUTAN RAKYAT DUSUN MURPAYUNG DESA SIGAR PENJALIN KABUPATEN LOMBOK UTARA
DOI:
https://doi.org/10.33394/jss.v1i1.3631Abstract
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu mengetahui Indeks Nilai Penting (INP) dan Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) vegetasi di kawasan Hutan Rakyat pada Kelompok Tani Hutan Beriuk Patuh Dusun Murpayung Desa Sigar Penjalin Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif, dengan pengambilan data menggunakan metode Garis berpetak yang merupakan modifikasi dari petak ganda atau cara jalur. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa untuk tingkat pohon dengan jumlah vegetasi yang ditemukan sebanyak 58 jenis, INP tertinggi berturut-turut adalah Kelapa 49,18%, Mente 30,78%, Ulam 20,65%,Udu/Kalimuru 19,13%, dan Gmelina 16,14%. Pada tingkat tiang terdapat 45 jenis dengan INP tertinggi Gmelina 114,15%, Mente 38,00%, Ulam 17,40%,Pinang 12,63%, dan Mahoni 11,18%. Untuk tingkat pancang ditemukan 41 jenis dengan INP tertinggi adalah Gmelina 72,0%, Mahoni 24,3%, Ulam 17,3%, Mangga Hutan 13,8%, dan Mente 8,7%. Dan untuk tingkat semai ditemukan 40 jenis dengan INP tertinggi berturut-turut adalah Ulam 47,8%, Gmelina 21,2%, Mangga Hutan 18,0%, Putat 11,7%, dan Kumbi 10,6%. Sedangkan untuk nilai Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) untuk tingkat pohon adalah 3,16 yang berarti tinggi yang menunjukkan bahwa ekosistem di kawasan Hutan Rakyat tersebut adalah baik. Untuk tingkat tiang H’ adalah 2,275, tingkat pancang H’ 2,094, dan tingkat semai H’ 2,692, yang berarti bahwa keanekaragaman jenis pada masing-masing tingkat tersebut adalah sedang.References
Anonim. 1997. Ensiklopedi Kehutanan
Indonesia. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan. Departemen
Kehutanan. Jakarta.
Anonim. 2013. Dinas Pertanian Perkebunan
Kehutanan Kelautan dan Perikanan.
Laporan Tahunan Bidang
Kehutanan.2013.KLU.
Awang S.A. dkk, 2001. Gurat Hutan Rakyat di
Kapur Selatan. Pustaka Kehutanan
Masyarakat. CV. Debut Press. Yogyakarta.
Awang S.A. dkk, 2002. Hutan Rakyat, Sosial
Ekonomi, dan Pemasaran. Yogyakarta :
BPFE.
Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Buku. Bumi
Aksara. Jakrta. 210 p.
Jaffar, E.R., 1993. Pola Pengembangan Hutan
Rakyat sebagai Upaya Peningkatan Luasan
Hutan dan Peningkatan Pendapatan
Masyarakat di Propinsi DIY. Makalah
Pertemuan Persaki Propinsi DIY 17 Juli
Yogyakarta.
Latifah, S. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam.
USU Reository, Sumatera Utara.
Nazir. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Buku.
Penerjemah: T. Samingan. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. 679 p.
Odum, E.P. 1996. Dasar-dasar ekologi (T.
Samingan. Terjemahan). Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Pemerintah Republik Indonesia. 1999. Undangundang
Nomor 41 Tentang Kehutanan.
Jakarta.
Rahadjanto. 2001. Ekology Tumbuhan. UMM
Press. Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.
Petunjuk Praktikum Ekologi
Tumbuhan. Malang: JICA.
Smith, R.I. 1997. Element of ecology. New York
: Harper dan Row. Publisher.
Soerianegara, I dan Indrawan A. 1982. Ekologi
Hutan Indonesia. Bogor : Departemen
Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan
IPB.
Soerianegara, I dan Andry Indrawan. 2005.
Ekologi Hutan Indonesia. Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Spurr, Stephen H. 1973. Forest Ecology. Ronald
Press Co. New York.
Sutisna, U. 1981. Komposisi jenis hutan bekas
tebangan di Batulicin, Kalimantan Selatan.
Deskripsi dan analisis (Laporan 328).
Bogor. Balai Penelitian Hutan.
Vickery, A. 1984. Ekologi Hutan Indonesia.
UGM Press. Yogyakarta.

